Tanatologi

Pasal 117 dalam UU 36/2009 tentang Kesehatan: kematian adalah berhentinya fungsi sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan secara permanen, atau telah terbukti adanya kematian batang otak. Tanatologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai kematian dan perubahan yang terjadi setelah mati serta faktor yang mempengaruhinya.

Cara kematian, bisa wajar atau tidak wajar. Kematian wajar hanya karena sakit dan tua. Termasuk dalam tidak wajar yaitu pembunuhan, bunuh diri dan kecelakaan (ini penting untuk penyidikan). Sebab kematian adalah event yang memicu kematian, misalnya perdarahan batang otak.

Terdapat beberapa istilah untuk mendefinisikan kematian, di antaranya: (1) mati klinis/somatis, yakni berhentinya tiga sistem utama penunjang kehidupan (respirasi-kardiovaskular-sistem saraf pusat); (2) mati suri, yakni berhentinya tiga sistem utama penunjang hidup yang dengan alat kedokteran canggih dapat diketahui bahwa sistem-sistem tersebut sebenarnya masih berfungsi; (3) mati seluler/molekuler, ya kematian organ yang mengikuti mati klinis; (4) mati serebral, yakni matinya sistem saraf pusat yang ireversibel kecuali batang otak dan serebelum; dan (5) mati batang otak, yakni mati sistem saraf pusat yang telah melibatkan batang otak dimana pasien bisa dikatakan tidak dapat hidup lagi dan alat bantuan medis bisa dipertimbangkan untuk dilepas.

Kematian dikenal dari munculnya tanda-tanda klinis kematian, pasti dan tidak pasti. Tanda tidak pasti kematian, diantaranya ada berhentinya pernafasan yang dinilai secara objektif selama lebih dari 10 menit, berhentinya sirkulasi darah yang dinilai selama 15 menit (nadi karotis tidak teraba), kulit pucat, hilangnya tonus otot, segmentasi pembuluh darah retina, dan mengeringnya kornea (mengeruh, dalam 10 menit). Setelah napas dan nadi berhenti, otomatis suplai oksigen juga berhenti jadi sel menjalankan metabolisme anaerob sampai kapasitasnya habis dan doi mati sendiri. Sel-sel saraf mati sehingga tonus otot dan segala refleks hilang terutama bisa di cek di refleks pupil. Tekanan cairan intraokular juga turun karena isi ulangnya tergantung aliran darah, sebagaimana kulit juga jadi pucat. Kalau di funduskopi keliatan ada segmentasi pembuluh darah retina jadi kayak rel kereta api (trucking/shunting). Otot-otot relaksasi, menyebabkan ngompol hingga keluar mani. Bisa ada regurgitasi isi lambung, biasanya karena abis diresusitasi (ini bukan sebab mati). Kalau mau menyatakan aspirasi sebagai sebab mati harus menemukan debris makanan di saluran napas distal disertai respons inflamasinya.

Tanda pasti kematian diantaranya adalah lebam mayat (livor mortis), kaku mayat (rigor mortis), penurunan suhu tubuh (algor mortis), pembusukan (putrefaction), terbentuknya adiposera, dan mumifikasi.

Lebam mayat atau hipostasis merupakan hasil dari stasisnya eritrosit pada vena dan venula di bagian terbawah tubuh akibat tertarik gravitasi. Manifestasinya berupa bagian kulit tersebut akan berwarna livid (kebiruan). Memar juga biasanya tidak melingkupi area seluas lebam mayat, densitasnya lebih homogen dan bisa ada di berbagai bagian tubuh. Warna lebam bergantung pada kadar oksihemoglobin. Lebam mayat dapat berubah merah muda bila mayat disimpan dalam pendingin atau tenggelam karena saat hipotermia, metabolisme jaringan tubuh menurun dan intake oksigen dari pembuluh darah juga menurun. Lebam mayat berwarna cherry-pink menandakan intoksikasi CO. Lebam mayat muncul 20-30 menit pascamati, intensitasnya akan bertambah dan menjadi lengkap setelah 8-12 jam. Antara 12-24 jam, darah masih cukup cair sehingga dapat berpindah membentuk lebam baru di posisi baru bila mayat dipindahkan. Di atas 24 jam biasanya lebam mayat akan menetap dan tidak akan hilang pada penekanan karena eritrosit sudah terlalu banyak terakumulasi dan sulit untuk berpindah lagi.3,6

Kaku mayat terjadi akibat habisnya cadangan glikogen dalam otot. Glikogen berperan dalam mengubah ADP menjadi ATP melalui fosforilasi oksidatif yang pake oksigen, dimana ATP ini yang akan menjaga aktin dan miosin tetap lentur. Tanpa oksigen, fosforilasi oksidatif gabs berjalan dan menghasilkan ATP, jadi sel beralih ke metabolisme anaerob. Metabolisme anaerob menghasilkan asam laktat jadi bikin sitoplasma asam. Sitoplasma asidik plus low ATP sukses membuat aktin dan miosin bertaut, jadi gel, kaku lah itu otot. Sampai akhirnya sumber energi habis dan otot beneran jadi kaku. Ototnya cuma kaku ya, tidak kontraksi, kalau kontraksi itu pada cadaveric spasm yang memang ada aktivitas otot sebelumnya. Kaku mayat mulai muncul 2 jam pascamati klinis, dan bisa lebih cepat bila korban berada di lingkungan bersuhu tinggi misalnya daerah tropis atau deket sumber panas, atau mengalami peningkatan aktivitas otot yang intens sebelum kematian misalnya kejang-kejang atau distimulasi setrum terus-terusan. Sebaliknya, prosesnya melambat pada suhu dingin. Kaku dimulai dari bagian tubuh terluar dengan kelompok otot yang lebih kecil dan berlanjut ke arah dalam (pola sentripetal). Umumnya dimulai dari otot wajah sekitar mata dan mulut, rahang, leher, jari kemudian ke pergelangan tangan dan kaki, lutut dan siku, kemudian pinggang. Metode tes kaku mayat yakni dengan mem-fleksi dan meng-ekstensikan sendi-sendi diatas dan menekan otot quadrisep dan pektoralis. Kaku mayat mencapai optimal dalam 6-12 jam pascamati. Diatas 12 jam pascamati, kaku mayat sudah semakin sulit dilawan. Setelah itu keadaan kaku bertahan hingga proses autolisis dan pembsukan terjadi dan otot kembali lunglai sesuai pola sentripetal, biasanya diatas 24 jam pascamati.

Penurunan suhu tubuh pascamati klinis terjadi karena adanya perpindahan panas melalui radiasi, konduksi, evaporasi, dan konveksi (liat Newton’s Law of cooling). Karena itu, penurunan suhu tubuh akan lebih cepat pada korban yang kurus, tidak berpakaian/berpakaian tipis, berada di lingkungan bersuhu rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, orang usia lanjut dan bayi. Penurunan suhu berjalan menyerupai kurva sigmoid.3,6

Tanda-tanda pembusukan mulai muncul kira-kira setelah 24 jam pascamati. Pembusukan atau dekomposisi adalah proses degradasi jaringan akibat aktivitas bakteria dan autolisis oleh enzim digestif yang dihasilkan sel.

Tanda pertama setelah 24 jam biasanya berupa warna kehijauan di dinding perut bawah dimana sekum berada. Warna ini dihasilkan oleh bakteri usus yang berpindah ke pembuluh darah dinding perut, terus mendekomposisi hemoglobin menghasilkan sulfhemoglobin serta zat pigmen lainnya yang bikin warna hijau disitu. Pada terjadinya autolisis eritrosit (hemolisis), fragmen darah akan berdifusi keluar pembuluh darah, jadi pada saat itu memar dan lebam mayat sudah sulit dibedakan.

Setelah 36 jam, kehijauan sudah menyebar sampai seluruh perut dan dada. Dekomposisi darah di pembuluh superfisial menghasilkan motif marbling yang makin jelas di kulit. Mulai terbentuk bula berisi cairan pembusukan. Bakteri makin intens menghasilkan gas pembusukan dimana-mana dan bau busuk mulai tercium. Gas yang terbentuk dalam rongga tubuh akan menyebabkan distensi entah di perut, skrotum, payudara, wajah… Kalau di kulit menghasilkan krepitasi saat ditekan. Adanya gas menyebabkan tekanan dalam tubuh tinggi sehingga bisa ditemukan lidah dan mata menjulur atau menonjol keluar. Selain itu keluar juga purge fluid dari paru cairan pembusukan bercampur darah melalui mulut dan hidung (ini bukan tanda-tanda kekerasan). Gas yang terbentuk dalam rongga sendi menimbulkan posisi mayat menyerupai petinju aka pugilistic attitude.

Setelah 36-48 jam pascamati, larva lalat atau belatung dapat ditemui pada tubuh mayat. Telur-telur lalat dapat ditemui di lubang-lubang anatomik seperti hidung, sudut mata, dan di antara bibir. Mereka akan menetas setelah 24 jam.

Setelah 48-72 jam, epidermis mengelupas sehingga identifikasi sidik jari menjadi sulit; apendises kulit seperti rambut dan kuku mudah terlepas; wajah, leher, palpebra dan lidah membengkak seperti yang tadi sudah dibahas, sehingga wajah mayat jadi sulit dikenali oleh keluarga. Kulit yang kehijauan semakin berubah kehitaman.

Tergantung lokasi mayat, dapat ditemui bekas-bekas gigitan hewan pengerat berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi bergerigi. Pembusukan akan berlangsung lebih cepat dengan adanya eksistensi belatung, lingkungan dengan suhu optimal untuk pembusukan (26,5 oC – 37oC), kelembaban tinggi, tubuh gemuk, atau korban menderita infeksi/sepsis/memiliki banyak bakteri pembusuk. Dikatakan bahwa prostat, uterus nongravid, tendon dan ligamen merupakan organ yang tahan terhadap pembusukan, mereka bisa ga membusuk hingga hitungan bulan.

Perendaman dan penguburan juga dikatakan akan memperlambat pembusukan. Kecepatan pembusukan di udara banding kerendam air banding dikubur tanah = 8:2:1 (di udara paling cepet). Pembusukan dapat terhambat akibat oleh adanya adiposera atau mumifikasi. Adiposera yaitu adanya substansi menyerupai lilin yang menginfiltrasi jaringan lunak pascamati. Substansi lilin ini terbentuk dari hidrolisis lemak tak jenuh jadi lemak jenuh, kemudian bercampur jaringan ikat, otot dan saraf. Pembusukan terhambat karena adiposera meningkatkan keasaman dan dehidrasi jaringan. Adiposera muncul pada mayat di lingkungan basah (masuk air atau dikubur di tanah basah). Faktor yang mempercepat pembentukannya adalah kelembaban, kadar lemak tubuh, suhu hangat dan invasi bakteri endogen. Pada mumifikasi pembusukan juga terhambat akibat dehidrasi jaringan sehingga bakteri pembusuk tidak bisa numbuh. Kulit mayat jadi kering kesat (leathery) kecokelatan-kehitaman. Dehidrasi pada proses mumifikasi disebabkan oleh adanya aliran udara yang baik, suhu lingkungan yang hangat dan rendahnya kelembaban lingkungan.

Sumber:

  • Buku Ilmu Kedokteran Forensik FKUI
  • Simpson’s Forensic Medicine
  • Kapita Selekta Kedokteran

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: