Kekerasan pada Anak

  • Definisi: perlakuan yang menyebabkan penderitaan hingga kecacatan, dari seorang dewasa kepada anak dibawah pengasuhannya, atau anak yang lebih tua terhadap anak yang lebih lemah.
  • Dasar hukum: UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak
    • Pasal 1: anak adalah seorang <18 tahun termasuk yang masih dalam kandungan; tiap perbuatan terhadap anak yang menyebabkan: deritaan fisik, psikis, seksual, penelantaran, termasuk perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.
    • Pasal 80, 81, 82: sanksi-sanksi, hukuman ditambah sepertiganya bila pelakunya ortu.
  • Dapat berupa kekerasan fisik (CPA), emosional (CEA), seksual (CSA) atau penelantaran (neglect).
    • Fase satu (akut): korban sering menangis atau diam, emosi marah/dendam/takut/malu.
    • Fase dua (adaptasi): emosi terkontrol dengan represi dan rasionalisasi.
    • Fase tiga (reorganisasi): mulai depresi, mimpi buruk, fobia, takut dengan orang, takut berhubungan seksual (nantinya).
  • Indikator kemungkinan child abuse:
    • Luka di lokasi yang tidak biasa: wajah/mulut/punggung/bokong/paha/betis
    • Luka multipel dengan beberapa tingkat penyembuhan
    • Luka menyerupai pola tertentu
      • Lecet gigitan manusia
      • Marginal hemorrhage lecutan rotan
    • LB menyerupai bekas sundutan rokok
    • Fraktur multipel di anak <5 tahun, atau fraktur dengan beberapa tingkat penyembuhan
    • Dislokasi disertai tanda-tanda tarikan
    • Banyak luka lama dan baru, atau bekas luka berulang
    • Luka tidak dapat dijelaskan, atau luka tidak segera dicarikan pertolongan, atau antara luka dan cerita tidak sesuai, atau cerita berubah-ubah
    • Pada CSA:
      • Luka di genitalia luar/liang senggama/anus/mulut/payudara/bokong/paha
      • Robeknya selaput dara
      • Nyeri BAK/BAB
      • Gangguan kendali BAK/BAB
      • Ditemui bercak mani
      • Infeksi menular seksual
      • Lipatan anus hilang, diameter melebar, anus lonceng pada sodomi
  • Dampak pada anak:
    • Kecacatan atau kematian
    • Gangguan atau keterlambatan perkembangan-perilaku dan pertumbuhan
    • Anak berpotensi mengalami gangguan psikis saat dewasa
    • Anak berpotensi berbuat yang serupa di masa depan
  • Pemeriksaan dan Rx?
    • Informed consent dan tenangkan korban
    • Anamnesis – PF (kronologi kejadian, riwayat keluarga, PF umum, gigi, perkembangan seks, PF genitalia dan anus, PF tanda-tanda kekerasan)
    • Foto berwarna trauma fisik
    • PP sesuai indikasi: rongent, swab, potongan kuku, rambut, kerokan bercak, tes hamil
    • Skrining perilaku –> konsul Psikiatri
    • Skrining perkembangan –> konsul IKA
    • Terkait kehamilan –> konsul OBGYN
  • Catatan:
    • Anak tanpa riwayat kekerasan seksual dari anamnesis tetap harus diperiksa CSA.
    • Hasil visum: hati-hati jangan membocorkan sejujurnya pada keluarga, keluarga bisa jadi pelakunya sehingga ia bisa menghilangkan barang bukti.

 

Sumber:

  • Buku Ilmu Kedokteran Forensik FKUI
  • Feedback dr. FAS
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: