Asfiksia dan Tenggelam

  • Definisi: kondisi kekurangan oksigen, entah dari tidak memadainya ambilan/pengantaran/utilisasi oksigen. Bisa parsial (hipoksia) atau total (anoksia). Sering juga disertai retensi karbondioksida.
    • Oksigen di udara kurang = suffocation
    • Penutupan saluran napas dari luar = smothering (pembekapan), hanging (gantung), ligature strangulation (penjeratan), manual strangulation (pencekikan)
    • Penutupan saluran napas dari dalam = gagging/choking
    • Restriksi gerakan dada = chest compression (asfiksia traumatik)
    • Oksigen gagal ditransport = keracunan CO
    • Oksigen gagal dipakai sel = keracunan CN
  • Klasifikasi (Simpson’s Forensic Medicine):
    • Mekanik: smothering, hanging, ligature strangulation, manual strangulation, gagging/choking, chest compression (yang kalo di Buku Ilmu Kedokteran Forensik disebut asfiksia traumatik)
    • Nonmekanik: keracunan CO, keracunan CN
    • Lain-lain: tenggelam
  • Fase: dispnea, konvulsi, apnea, akhir.
  • Tanda klasik asfiksia (tapi tidak spesifik asfiksia):
Temuan Pemeriksaan Luar (PL) Temuan Pemeriksaan Dalam (PD)
– Petekiae (di wajah-leher terutama daerah mata)

– Tanda kongesti dan edema di wajah

– Sianosis di wajah

 

– Darah lebih encer dan gelap

– Kongesti dan dilatasi jantung kanan

– Pembesaran organ lain bisa ditemukan

– Otak pucat

Tardieu spot (di pleura, tapi menurut Simpson ini tidak jadi tanda spesifik untuk asfiksia)

  • Patofisiologi terkait berbagai mekanisme asfiksia:
    • Obstruksi vena jugularis menyebabkan hambatan aliran darah balik vena dari kepala menyebabkan petekiae, kongesti, dan sianosis.
    • Obstruksi arteri karotis menyebabkan hipoksia serebral.
    • Stimulasi baroreseptor di bifurkasio arteri karotis dan arkus faring menyebabkan refleks vagal and then cardiac arrest.
    • Elevasi laring dan lidah menutup jalan napas di level faring.
    PL PD PP Sebab mati
DROWNING

Fatal period = 2-12 menit

Istilah terkait tenggelam:

  • Paru masuk air = tenggelam
  • Paru tidak sampai kemasukan air, tapi meninggal karena spasme laring = terbenam
  • Seluruh tubuh masuk air = immersion
  • Sebagian tubuh masuk air = submersion, misal kepalanya doang

 

 

 

– Tubuh basah berlumpur

– Busa halus dari mulut dan hidung

– Kutis anserina

– Washer woman’s hand

– Cadaveric spams (+/-)

– Mata terbuka (+/-)

– Livor mortis distribusi luas dan cepat

– Darah gelap dan encer

Tardieu spot

Paltauf spot (kelabu, gambaran alveoli emfisema yang nampak secara makroskopik)

– Emfisema akuosum, paru disayat ngocor air (kalo edema paru, disayat ngocor busa)

– Dilatasi jantung

– Lambung isi air dan benda air

– Kongesti di organ dalam lainnya (jadi lebih besar, berat, gelap)

 

– Diatom: bandingkan yang di TKP vs di saluran napas, cek di sumsum tulang (1 maka positif), ginjal (4-5/LPB atau 10-20/sediaan maka positif) – Edema paru

– Fibrilasi atrium

– Asfiksia karena spasme laring

– Asfiksia karena gagging atau choking

– Refleks vagal (rare)

 

 

Tenggelam di Air Tawar:

  • Hemodilusi dan hemolisis, mendenaturasi surfaktan, hipervolemia mendadak >22 cc/kgBB (sangat banjir)
  • Sebab mati mostly karena anoksia serebral dan fibrilasi atrium
  • Kalium tinggi di bilik kanan
  • Emfisema akuosum 300-500 gram
  • Di-RJP pulih, tapi sebenarnya pneumosit rusak (muncul gejala ARDS setelahnya). Kasus ini harus segera rujuk RS siap-siap ICU untuk alat bantu napas. Ini yang namanya secondary drowning. Hati-hati komplikasi pneumonia ke depannya
  • Die within 5 min

Tenggelam di Air Asin:

  • Hemokonsentrasi dan krenasi, dilatasi jantung, mendilusi surfaktan, edema paru
  • Kalium tinggi di bilik kiri
  • Emfisema akuosum 500-1000 gram
  • Di-RJP, selesai pulih (pneumosit oke-oke aja dalam menghasilkan surfaktan). Hati-hati komplikasi pneumonia ke depannya
  • Die within 8-9 min
Istilah terkait tenggelam lainnya:

  • Wet drowning: tenggelam sesuai definisi
  • Dry drowning: asfiksia oleh spasme laring setelah kena air (secara definisi tidak termasuk tenggelam, tapi terbenam)
  • Near drowning: selamat dari episode akut lalu meninggal <24 jam karena komplikasi
  • Cold water drowning: suhu air <20 derajat
  • Warm water drowning: suhu air >20 derajat
Catatan:

  • Pada mayat busuk à bisa tidak ketahuan ada infark (yang menyebabkan korban jatuh ke air). Luka-luka mungkin dari gesekan atau proses jatuh ke air. Korban belum meninggal saat jatuh ke air sehingga air dan pasir bisa masuk jauh.
  • Sebab mati dry drowning gakbisa ketauan dong? Tidak semua sebab mati bisa ketahuan dari otopsi. Tilik lagi TKP, ada tidak saksi, benda bukti lainnya dll. Gaboleh maksain sesuatu harus ada. Kalo ga  ketemu yaudah, sebab kematian tidak dapat ditentukan.
SUFFOCATION – Acidental

(kekunci maybe)

– Homicidal (Kasus Pulomas, bayi dimasukin koper)

       
SMOTHERING

 

– Accidental (overlying; ketiban pas menyusui)

– Homicidal (bayi, orang tua)

– Suicidal (psikotik)

– Memar di hidung, pipi, bibir luar-dalam

– Lecet bekas goresan kuku

– Sianosis

– Busa halus

– Petekiae

– Darah gelap encer

– Kongesti organ dalam

– Petekiae organ dalam

 

  – Asfiksia
GAGGING (orofaring) & CHOKING (laringofaring)

 

Accidental (keselek, refluks)

Homicidal (bayi, orang tua)

Suicidal (psikotik)

– Ditemukan benda penyumbat

– Sianosis

– Busa halus

– Petekiae

– Ditemukan benda penyumbat   – Asfiksia

– Refleks vagal (stimulasi di arkus faring)

LIGATURE STRANGULATION Accidental (kelainan seksual)

Homicidal

– Bekas jerat horizontal. Bisa tampak putus karena terhalang rambut atau baju

– Sianosis

– Busa halus

– Petekiae

– Resapan darah di otot leher

– Fraktur di kartilago hyoid dan tiroid

  – Asfiksia

– Refleks vagal (stimulasi di badan karotis)

– Hipoksia serebral bila arteri ketekan

MANUAL STRANGULATION Homicidal (sudah jelas. Bisa nyekek diri sendiri?) – Bekas cekikan

– Lecet goresan kuku

– Sianosis

– Busa halus

– Petekiae

– Resapan darah di otot leher

– Fraktur di kartilago hyoid dan tiroid

  – Asfiksia

– Refleks vagal (stimulasi di badan karotis)

– Hipoksia serebral bila arteri ketekan

HANGING

 

Simpul tali:

  • Belakang (typical)
  • Samping (atypical)
  • Depan/dagu.
  • Ini mem- pengaruhi pembuluh yang tertekan.
Homicidal (jarak kaki-lantai jauh ga wajar, simpul mati)

– Suicidal (jarak kaki-lantai terjangkau, ada suspension point, simpul hidup)

– Bekas jerat diatas rawan gondok, miring tergantung simpulnya

– Sianosis

– Busa halus

– Petekiae

– Resapan darah di otot leher

– Fraktur di kartilago hyoid dan tiroid

  – Asfiksia

– Refleks vagal (stimulasi di badan karotis)

– Hipoksia serebral bila arteri ketekan

CHEST COMPRESSION Accidental (tertimbun pada kecelakaan kerja atau bencana alam) – Bekas luka di dada

– Petekiae

– Perdarahan subkonjungtiva

– Bisa jadi ada tanda trauma daerah dada   – Asfiksia
  • Berat paru normal = 200-250 gram; jantung normal = 250-300 gram.
  • Otot fleksor lebih banyak dari ekstensor. Fleksi adalah kondisi fisiologis, bayi-orangtua-mayat posisinya meringkuk. Kepala mayat tenggelam posisinya paling bawah karena BJ-nya paling berat, paru dan usus yang berisi udara mengapung diatas. Lebam mayat pada tenggelam muncul di tempat terbawah, pembusukan juga sesuai tempat hipostasisnya (blister segala macem muncul duluan disitu).
  • Bila ada fraktur di lokasi yang tidak tergesek dasar tempat air, cek ada tidaknya kehitaman di tulang. Kalau ada = tanda intravital, kemungkinan korban mengalami kekerasan dulu sebelum nyemplung ke air.
  • Makhluk hidup air:
    • Binatang: makroskopik itu ikan udang kepiting dkk. Mikroskopik, yaitu zooplankton (amoeba, flagelata, crustacea, arthropoda).
    • Tumbuhan: makroskopik itu rumput laut dkk. Mikroskopik, yaitu fitoplankton/alga/ ganggang (ada cyanophyceae, rhodophiceae, chlorophyceae, dan lain-lain, termasuk basiliophiceae yang mengandung silika [SiO2] atau yang dikenal dengan diatom).
  • Pada pemeriksaan destruksi paru, semua zooplankton dan fitoplankton dihancurkan kecuali diatom. Ada yang menggunakan larutan asam, basa, enzim, protein asetat, ultrasound dan lain-lain. Salah satu cara: ambil 100 gram oaru, digunting-gunting dan diberikan asam sulfat pekat semalaman sampai jadi bubur. Besoknya, bubur ini dididihkan di kamar asam dan diteteskan asam nitrat pekat, sampai bubur yang tadinya coklat jadi bening. Bubur bening kemudian disentrifugasi, lapisan bening atasnya diambil dan dicek ada tidaknya diatom. Cara lain adalah metode lungswap atau pengambilan getah paru (Atmadja, 1987): ambil paru, dikocorin air sampai bersih, paru diiris dan airnya diambil lalu cari gambaran seluruh plankton. Di tempat terpencil bisa asal punya mikroskop.
  • Pneumosit II menghasilkan surfaktan (alfa 1 antitripsin), ini yang rusak di air tawar.

 

Sumber:

  • Buku Ilmu Kedokteran Forensik FKUI
  • Simpson’s Forensic Medicine
  • Feedback dr. DSA

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: